Pulau Biawak atau Pulau Rakit adalah sebuah pulau yang terletak di
Laut Jawa di Kabupaten Indramayu Jawa Barat. Pulau Biawak terletak di sebelah
utara semenanjung Indramayu sekitar 40 Km dari pantai utara Indramayu. Sesungguhnya
nama pulau tersebut adalah Pulau Rakit, tetapi oleh Pemkab Indramayu dinamakan
Pulau Biawak karena di pulau ini banyak dijumpai satwa liar yang justru menjadi
ciri khasnya, yakni biawak (Varanus salvator). Satwa ini tergolong unik
karena hidup di habitat air asin. Setiap menjelang matahari terbenam, puluhan
biawak dengan panjang antara 20 centimeter hingga 1,5 meter terlihat berenang
di tepian pantai. Satwa-satwa itu memang tengah berburu ikan untuk kebutuhan
makannya.
Selain disebut sebagai pulau Biawak, pulau ini juga disebut sebagai
Pulau Menyawak dan Pulau Bompyis.
Pulau itu memiliki pesona wisata yang unik, karena karangnya yang
masih 'perawan ' dan hidup. Di antara keempat pulau itu, hanya Pulau Biawak
yang masih utuh dalam segalanya. Sedangkan tiga pulau lainnya hanya berupa
hamparan pulau karang semata. Pulau Gosong, misalnya, kondisinya rusak karena
jutaan meter kubik material karangnya diambil untuk pengurukan lokasi kilang
minyak Pertamina Unit Pengolahan VI Balongan.
Keberadaan pulau ini sangat berbahaya bagi alur pelayaran
kapal-kapal laut yang melintas di kepulauan tersebut. Maka tak heran,
bangsa Belanda semasa
menjajah kepulauan Indonesia, mendirikan bangunan menara mercusuar.
Mercusuar dengan ketinggian sekitar 65 meter itu dibangun
oleh ZM Willem pada 1872. Hingga kini,
bangunan itu masih berfungsi untuk memandu kapal-kapal besar maupun kecil yang
melintas. Melihat usia bangunan tersebut, mercusuar itu diperkirakan seumur
dengan mercusuar di Pantai Anyer.
Berikut ini adalah hasil dari eksplorasi kami mengunjungi Pulau Biawak pada tanggal 1 Mei 2019 :
Welcome to Pulau Biawak
Ini
adalalah
sebuah
view
saat
pengunjung
turun
dari
kapal
dan berjalan
menuju Pulau Biawak.
Salah satu hewan yang menyambut kedatangan pengunjung saat turun dari kapal dan berjalan menuju Pulau Biawak.
Dari
Pulau
Biawak
pengunjung
dapat
menikmati
pemandangan
laut
seperti
dermaga
yang di sebelahnya terdapat
satu
pohon
bakau
kecil.
Dermaga
ini
mempunyai
panjang
sekitar
300 meter dan mempunyai
luas hanya
1,5 meter yang terbuat
dari
beton.
Ambruk
Jembatan
penghubung
dari
kapal
menuju
pintu
masuk
Pulau
Biawak
yang kian
rusak.
Menuju Pulau Biawak
Akses
untuk
mencapai
pulau
ini
pengunjung
bisa
menggunakan
dua
jenis
kapal.
Pertama
dengan
menyewa
perahu
nelayan,
kedua
menggunakan
speed boat yang dimiliki
Dinas
Pariwisata
dan
Budaya
Kabupaten
Indramayu.
Waktu perjalanan
yang ditempuh
dengan
menggunakan
kapal
nelayan
adalah
4 jam. Apabila
menggunakan
speed boat cukup
3 jam saja.
Penghuni Pulau
Biawak
adalah
hewan
jenis
reptil,
habitat hewan
ini
biasanya
tidak
jauh
dari
perairan. Biawak
berenang
di air untuk
mencari
mangsa
seperti
ikan
– ikan
kecil,
kepiting,
atau
cumi
– cumi.
Terbengkalai
Akses
jalan
menuju
homestay yang
terhalang
oleh ranting-ranting yang kian
menjalar,
dan terbengkalainya
penginapan
yang kian
lama tidak
dihuni.
Roboh
Homestay
yang
berada
di tengah
hutan
bakau
yang tinggi
kini
sudah
hancur
terbengkalai.
Makam Syeh Syarif Khasan
Syeh Syarif Khasan merupakan kerabat dari Sunan Gunung Jati, beliau dimakamkan di Pulau Biawak karena beliau sering bertapa di pulau ini.
Biawak
Biawak
di pulai
ini
merupakan
asuhan
dari
nyonya
belanda
sejak
tahun
1872, biawak
di pulau
ini
panjangnya
1 sampai
1,5 meter.
Bukan Biawak Biasa
Biawak
di pulau
ini
bukan
biawak
biasa,
diantaranya
ada
salah satu
kelompok
biawak
yang merupakan
jelmaan
dari
tentara
Belanda.
Sesajen
Kambing
di Pulau
Biawak
ini
bukan
karena
ada
yang memelihara,
namun
dikarenakan
untuk
sesajen.
Tak Terpakai
Salah
satu
penginapan
yang berada
di samping
mercusuar
yang masih
berdiri
kokoh
namun
sangat
kotor
dan tidak
terawat.
Mercusuar
Mercusuar ini dibangun pada masa penjajahan Belanda pada tahun
1872. Hal ini dikarenakan pulau biawak menjadi jalur berbahaya bagi nelayan, maka dari itu dibangunlah mercusuar ini. Hingga saat ini mercusuar masih berdiri kokoh dengan tinggi mencapai 65 meter meski sudah dilakukan bebrapa kali perbaikan.
Naik, Turun dan Berputar
Pengunjung dapat menikmati sebuah pemandangan pulau biawak dari puncak mercusuar dengan menaiki sekitar 300 anak tangga yang dirancang melingkar. Mercusuar ini mempunyai 16 lantai. Tangga ini terbuat dari besi yang kokoh. Namun karena usianya yang terbilang sudah ratusan tahun besi-besi ini sudah berkarat dan ada beberapa yang putus.
Bird Eye
Pengunjung dapat menikmati pemandangan laut dan dermaga yang panjang dari puncak mercusuar.
Sunset
Sunset
dipulau
biawak
memperlihatkan
gradasi
antara
warna
orange dan awan
biru.
Fotografer :
1. Andrian Rohmad K ig: @andrianrk
2. Ibnu Rifai ig: @ibnurifall
Karya kami lainnya :























